Pilgub DKI Jakarta Masuk Bursa Taruhan Tim Ahok Menyayangkan

Tim Ahok Djarot

Besok, tepatnya tanggal 19 April 2017, DKI Jakarta tengah bersiap diri menyongsong Pilgub DKI Jakarta. Di saat dua pasang cagub-cawagub bersaing sengit, ada saja pihak yang memanfaatkan pesta demokrasi ini sebagai ajang Taruhan apalagi melalui online, sungguh menyedihkan.

Tim Ahok Djarot

Tim Sukses atau Timses Cagub DKI Jakarta nomor urut 2, Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) dan Djarot Saiful Hidayat (Djarot), sangat menyayangkan telah muncul pihak yang memanfaatkan momen Pilgub DKI Jakarta untuk ajang Taruhan.

Bahkan sampai masuk Bursa Taruhan di berbagai situs Bandar Internasional dan ada juga yang memasukkannya ke dalam kategori olahraga. Memang begitulah manusia, memanfaatkan momentum dan teknologi sehingga menjadikannya ajang Taruhan Online.

“Ya saya kira itu bukan bagian dari proses demokratisasi yang kita harapkan,” kata Jubir Timses Ahok-Djarot, Raja Juli Antoni, kepada wartawan, Selasa (18/4/2017).

Proses demokratisasi yang diharapkan yaitu bagaimana para kandidat beradu gagasan dan program untuk memberikan pelayanan yang terbaik untuk masyarakat.

Rupanya masih ada saja yang ingin raup keuntungan besar melalui perjudian menggunakan media Online, malah hal tersebut sangat disayangkan. Padahal masih terdapat ribuan cara lainnya untuk cari keuntungan, bukanlah melalui Bursa Taruhan Online.

“Aspek-aspek perjudian itu kan tidak relevan dengan proses demokratisasi kita. Mungkin orang yang iseng menggunakan panggung itu untuk keuntungan pribadi,” kata Toni.

Daripada sekedar bertaruh untuk siapa pemenang Pilgub DKI Jakarta, masyarakat sangat di himbau untuk menggunakan hak pilihnya di Pilgub DKI Jakarta besok. Sehingga tujuan utama pesta demokrasi untuk memilih pemimpin di Pilgub DKI Jakarta benar – benar tercapai.

“Mestinya partisipasi masyarakat dalam bentuk menggunakan hak pilihnya. Sehingga mereka ikut menentukan arah pembangunan Jakarta ke depan,” pungkasnya.

Laporan Keuangan Pasangan Calon Pilkada DKI Jakarta 2017 !

Info Berita Pilkada – Laporan Keuangan Pasangan Calon Pilkada DKI Jakarta 2017, telah dilaporkan melalui Harian Kompas kemudian dirangkum oleh Colok Silang.

Laporan Keuangan Pasangan Calon Pilkada DKI Jakarta 2017

Ongkos kampanye itulah sebutannya. Sebelum dan sesudah masa kampanye, para calon wajib melaporkan dana untuk kampanye.

Dana atau ongkos kampanye sikapnya harus transparan, sehingga masyarakat dapat melihat dan menilai masing – masing calon.

Melalui Harian Kompas, total pengeluaran dari tiga pasang Calon Gubernur dan Calon Wakil Gubernur DKI Jakarta, telah dapat disimak.

Berikut ini Laporan Keuangan dari Tiga Pasangan Calon Gubernur DKI:

Pasangan Satu, Agus – Sylvi: Rp 69 Milyar, sisa 14 Juta;
Pasangan Dua, Ahok – Djarot: Rp 54 Milyar, sisa 6,5 Milyar;
Pasangan Tiga, Anies – Sandi: Rp 65 Milyar, sisa 550 Juta.

Menurut kamu, sisanya dana kampanye hendak dikemanakan ? Menurut laporan masing – masing pasangan, berikut ini Info Pilkada yang telah dirangkum:

Pasangan Satu: “Dimasukkan ke kas tim pemenangan”
Pasangan Dua: “Dimasukkan ke kas negara”
Pasangan Tiga: “Sebagai saldo awal menghadapi putaran berikutnya”.

Sebagai tanda kedewasaan pribadi, maka silahkan kamu pikirkan, telaah, dan tentukan pilihan sesuai hati nurani diri sendiri tanpa ada pengaruh ataupun paksaan dari lingkungan sekitar.

Latar Belakang Tiga Calon Gubernur DKI Jakarta

Team Colok Silang lebih bersikap netral, sehingga segala jenis pemberitaan tentang Info Berita Pilkada, kami hanya bersikap informatif tanpa lebih menonjol kepada satu pihak.

Ada Brochure Ahok Djarot Dalam Paket Sembako Anies Sandi !

Info Berita Pilkada – Ada Brochure Ahok Djarot Dalam Paket Sembako Anies Sandi, benarkah seperti itu ? Seperti yang telah dilansir dalam sub kategori situs KompasDotCom, benar terjadi seperti itu.

Ada Brochure Ahok Djarot Dalam Paket Sembako Anies

Dalam situs KompasDotCom disampaikan bahwa Yupen Hadi, Wakil Ketua Bidang Advokasi dan Keamanan Tim Pemenangan Anies Baswedan – Sandiaga Uno, mengungkapkan dalam paket brosur black campaign terhadap pasangan Anies – Sandi di Jakarta Barat, terselip juga brosur pasangan calon gubernur dan calon wakil gubernur nomor dua, Basuki Tjahaja Purnama (Ahok)-Djarot Saiful Hidayat.

Akan tetapi, terdapat hal yang berbeda, yaitu brochures Ahok – Djarot tersebut isinya bernada positif, berkebalikan dengan brosur Anies – Sandi yang isinya black campaign.

“Anehnya mengapa pada saat ada kampanye hitam, di dalamnya juga ada terselip ini (brosur Ahok-Djarot) di dalam tumpukan yang sama, janji salah satu paslon,” kata Yupen di Kantor Panwaslu Jakarta Barat, Jalan Kebon Jeruk Raya, Senin (13/2/2017).

Sebelumnya pada Sabtu (11/2/2017) Panitia Pengawas Pemilu (Panwaslu) Jakarta Barat menemukan 900.000 brosur berisi black campaign terhadap pasangan Anies-Sandiaga.

Temuan tersebut didapat setelah adanya laporan dari masyarakat ke kantor Panwaslu Jakarta Barat pada Jumat (10/2/2017) malam.

Setelah itu, pengawas pemilu lapangan (PPL) langsung menuju lapangan. Pada saat Sabtu pagi, barulah brosur – brosur tersebut disita oleh PPL.

Yupen berharap, Panwaslu, polisi, dan jaksa yang tergabung dalam tim sentra penegakan hukum terpadu (gakkumdu) dapat menelusuri maksud adanya positive campaign terhadap Ahok-Djarot dan negative campaign terhadap Anies-Sandi itu.

“Kami tidak berani menduga, tetapi hanya bertanya-tanya apa kaitannya. Di dalam paket yang sama, di dalam tumpukan bukti bersama-sama, terdapat ini (brosur Ahok-Djarot),” kata Yupen.

Ketua Panwaslu Jakarta Barat Puadi sebelumnya mengatakan, ada lima jenis brosur berisi black campaign yang disita Panwaslu Jakarta Barat di rumah kontrakan seseorang bernama Novi alias Edo di Jalan Asem, RT 004 RW 08, Duri Kepa, Kebon Jeruk, Jakarta Barat, pada Sabtu (11/2/2017).

Brosur – brosur tersebut berisi black campaign terhadap Anies-Sandi. Selain itu, dua brosur lainnya yakni berkaitan dengan pasangan calon nomor pemilihan dua, Ahok – Djarot. Akan tetapi, brosur terkait Ahok – Djarot bernada positif.

Seperti yang diketahui bahwa sesungguhnya tidak mungkin mungkin penyebaran materi kampanye dikemas dalam satu kemasan.

Sehingga bila terjadi, maka hal tersebut bisa dikatakan sebuah kampanye hitam atau black campaign. Walau demikian, janganlah cepat kamu simpulkan, karena perlu dikonfirmasi dan ditelusuri lebih dalam lagi.

Hakikatnya, dalam sebuah black campaign, merupakan salah satu strategi untuk menjatuhkan lawan atau oposisi.

Sehingga kejadian – kejadian black campaign, bila diketahui lebih cepat maka dapat ditelusuri dan diatasi lebih cepat dengan hasil maksimal.

Kunjungi terus Colok Silang untuk kamu yang ingin mengetahui kabar atau Info Berita Pilkada.