Jasa Prostitusi Online Di Duga Satpol PP Terdapat Di Apartement Lainnya

Jasa Prostitusi Online

Perlahan tapi pasti, sudah beberapa terbongkarnya kasus Jasa Prostitusi Online yang dilakukan di sebuah apartemen oleh polisi, membuat Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kota Bandung merasakan semakin perlu ditingkatkannya pengawasan ke sejumlah Apartemen di Kota Bandung.

Kasi Penyidik dan Penyelidikan Satpol PP Kota Bandung, Mujahid Syuhada, mengatakan, pihaknya akan melakukan operasi yustisi di sejumlah apartemen di Kota Bandung.

Sebab, ujarnya, adanya kasus Prostitusi Online yang dibongkar Polisi, tidak menutup kemungkinan terjadi juga di beberapa Apartemen lainnya di Kota Bandung.

“Kami akan meningkatkan pengawasan. Biasanya operasi yustisi kami lakukan di tempat kos, sekarang bergeser ke Apartemen. Tapi tempat kos bakal tetap kami awasi,” ujar Mujahid kepada Tribun di kantornya, Jalan Martanegara, Kota Bandung, Kamis (3/3/2016).

Mujahid Syuhada mengatakan, selama ini pihaknya mengaku kesulitan untuk menindak kasus Jasa Prostitusi yang serupa di Apartemen. Sebab, selain kekuatan personil yang kurang, pihaknya pun tak memiliki wewenang untuk melakukan penggeledahan langsung.

Maka dari itu, ujarnya, perlu tim gabungan untuk melakukan operasi yustisi ke depannya. “Kami hanya sebatas penegakan Perda saja. Jika ranahnya sudah pidana, tentunya itu bagian dari pihak kepolisian,” katanya.

Mujahid kembali menyampaikan kalau dari sisi Perda, praktik seperti ini telah melanggar Perda nomor 11 tahun 2005 tentang K3 (Kebersihan, Ketertiban dan Keindahan).

Mengapa bisa begitu ? Karena menurutnya, penyedia tempat praktik Jasa Prostitusi bisa dikenai biaya paksa Rp 50 juta.

“Penyedia tempatnya ini bisa mucikarinya atau pemasar Jasa Prostitusi Online. Karena dia menyewa tempat untuk dijadikan tempat Prostitusi,” katanya.

Sumber: TribunNewsDotCom.

Para Wanita Pelaku Jasa Prostitusi Online Mengakui Untuk Biayai Anak

Jasa Prostitusi Online

Praktik ilegal memasarkan Jasa Prostitusi Online kelas apartemen di Kota Bandung, Jawa Barat, terbongkar. Wanita para pelaku Jasa Prostitusi Online di Kota Bandung ini rata – rata didatangkan dari berbagai daerah di Jabar.

Mereka datang ke Bandung dengan berbagai macam latar belakang, profesi, dan usia. Misalkan seperti MA (22), yang mengaku baru saja keluar dari perusahaan swasta di Kabupaten Bogor ikutan Jasa Prostitusi di Bandung.

MA lebih memilih menjadi Pekerja Seks Komersial (PSK) atau Jasa Prostitusi di Kota Bandung untuk tetap menghidupi anaknya yang masih berusia 1,5 tahun.

Disaat MA sedang mencari pekerjaan di Kota Bandung, dirinya malah mengenal S alias Diki (23). “Sudah seminggu dua hari saya di Kota Bandung bekerja seperti ini di Apartemen. Selama seminggu baru ada 2 – 3 tamu pria pengguna Jasa Prostitusi Online. Setiap tamu tarifnya Rp 800 ribu sampai Rp 1 juta. Sebesar Rp 200 ribu saya kasi ke Diki,” ujar MA kepada wartawan di Markas Polsek Arcamanik, Jalan Cisaranten Kulon, Kecamatan Arcamanik, Kota Bandung, Rabu (2/3/2016).

Sebelumnya, polisi membongkar praktik esek – esek atau Jasa Prostitusi tersebut di Apartemen mewah di Jalan Soekarno – Hatta, Kelurahan Cisaranten Kulon, Kecamatan Arcamanik.

Pengungkapan yang dilakukan Unit Reskrim Polsek Arcamanik itu berlangsung Selasa (1/3/2016) sekitar pukul 16.30 WIB.

Polisi telah mengamankan lima wanita yang diduga sebagai Pekerja Seks Komersial (PSK) atau Jasa Prostitusi, dua pria yang diduga sebagai mucikari, dan tiga pria yang diduga sebagai pelanggan.

Sumber: TribunNewsDotCom.

Jasa Prostitusi Online Terbongkar Di Palembang, Siswi SMA Pasarkan Mahasiswi !

PSK atau Jasa Prostitusi Putih Abu - Abu

Jasa Prostitusi Online Terbongkar Di Palembang, Siswi SMA Pasarkan Mahasiswi ! Tiada yang mengira sedari awal bahwa Siswi SMA mampu memasarkan dan menjual Mahasiswi kepada para pria hidung belang.

Kasus Jasa Prostitusi Online di Palembang, Sumatera Selatan, ini dapat terungkap oleh aparat Satreskrim Polresta Palembang, Sumatera Selatan, menangkap BD (17), salah satu pelajar SMA yang diduga terlibat bisnis Jasa Prostitusi terselubung.

Dari sebuah hotel di kawasan Kalidoni, Palembang, BD ditangkap saat bertransaksi dengan petugas yang menyamar hendak menggunakan jasa pekerja seks komersial (PSK) kampus pada Kamis dini hari, 28 April 2016.

Siswi SMA tersebut rupanya tidak seorang sendiri ketika menjalankan bisnis Prostitusi Online. Melainkan bersama teman perempuannya, DA (17) ketika mengantar korban ED (21), mahasiswi salah satu perguruan tinggi swasta di Palembang yang ditawarkannya saat menjalani bisnis Prostitusi Online.

BD mengaku hanya meminta upah sebesar Rp 500 ribu dari pengguna Jasa Prostitusi. Ini di luar biaya kencan yang dipatok sebesar Rp 1,2 juta hingga Rp 1,5 juta.

Uang tersebut juga di luar biaya kamar hotel yang dibebankan kepada pengguna Jasa Prostitusi Online.

Ia pun mengaku sejak setahun terakhir tak lagi meminta uang ke orang tuanya. “Cukup buat keperluan sehari-hari. Ongkos dan isi pulsa,” ucap BD saat ditemui di Mapolresta Palembang, Sumatera Selatan, Sabtu (30/4/2016).

Teknik atau strategi Siswi SMA pelaku Jasa Prostitusi Online tersebut supaya lebih mudah memasarkan, BD menggunakan beberapa media sosial, seperti BeeTalk dan WeChat.

Apabila terdapat seorang pengguna Jasa Prostitusi memiliki minat dan serius, baru dia memberikan PIN BlackBerry Mesenger atau nomor telepon untuk mengatur kesepakatan dalam bisnis Jasa Prostitusi Online tersebut.

PSK Putih Abu – Abu Maluku Utara Curhat Semalaman

Jasa Prostitusi Atau PSK Putih Abu - Abu

Awal Oktober 2016 lalu, saat angin malam sedang hangat di sebuah sudut Kota Ternate, Maluku Utara. Beberapa remaja putri yang umurnya kira – kira sebaya anak SMA duduk di sebuah teras rumah di jalan utama memantau pengendara yang melintas.

Masuk dinihari, hujan membasahi Kota Bahari Berkesan itu. Jalanan semakin sepi. Seorang remaja putri menghampiri team Liputan6DotCom.

Terjadi percakapan dimulai oleh sang remaja putri:

“Hendak kemana, menunggu siapa?”

“Sedang menunggu teman. Arahnya ke sini.”

“Apakah Om punya rokok?” kata Sisca, sebut saja begitu.

Sebatang rokok diambil. Ia kemudian membakar dan mengeluarkan asapnya.

“Om beli minuman kaa,” kata dia sambil mengembuskan asap rokoknya lagi.

Sisca lalu mengatakan dirinya sedang stres. Mungkin minuman keras dapat melepaskan kepenatannya. “Cap Tikus, Om,” ucap Sisca.

Cap Tikus merupakan sejenis cairan berkadar alkohol yang dihasilkan melalui penyulingan saguer (cairan putih) yang keluar dari mayang pohon enau atau seho dalam bahasa Maluku Utara.

Produksinya dari Halmahera. Minuman ini cukup digemari banyak orang. Berikut lanjutan percakapan antara team Liputan6DotCom dengan sang remaja putri yang diduga PSK atau Jasa Prostitusi Putih Abu – Abu

“Sama siapa adek minum?”

“Ada dua orang teman saya di sana,” jawab Sisca sambil menunjuk ke arah tempat asal dirinya duduk bersama teman – temannya tersebut.

Sesungguhnya benar – benar tidak terlihat jelas wajah kedua teman tersebut. Dengan spontan, salah satu dari temannya menyahut, “Rokok so habis ni.”

Dia lalu meminta saya membelikan rokok yang dipesan temannya itu. Ia lalu menaiki motor dan kami menuju wilayah Ternate Tengah, Kota Ternate, Maluku Utara.

Dalam perjalanan, kami tak membeli rokok seperti yang dipesan temannya. Tak ada yang dibelikan, tapi banyak yang diceritakan. Utamanya tentang kehidupannya.

Masih sangat polos, bahkan dia baru beranjak 17 tahun. Setengah jam kami berputar – putar di dalam kota. Ia kembali dengan uang Rp 150 ribu pemberian Liputan6DotCom.

Pemicu Klise

Siswi kelas dua Sekolah Menengah Atas itu menceritakan apa yang dialami dalam kehidupan keluarganya. Sisca yang baru menginjak anak baru gede atau ABG tersebut, kini tinggal bersama neneknya, ibu dari mamanya yang telah berpisah dengan ayah kandungnya.

Keretakan hubungan orang tua sejak dirinya masih di bangku SMP kelas tiga. Ayahnya yang berlatar belakang wiraswasta menceraikan ibunya pada 2015.

“Bersama pacarnya (wanita baru), papa sudah menikah,” kata Sisca.

Sisca pun melanjutkan ceritanya, bahwa ibu kandungnya juga sudah menikah. “Kalau papa (ayah) tinggal di (salah satu kelurahan di Ternate Tengah). Ibu sekarang ikut papa tiri ke Jailolo (ibu kota Kabupaten Halmahera Barat),” tutur dia.

Sisca pun mulai menjamah dunia malam. Pergaulannya semakin bebas. Aksinya makin terpicu seiring maraknya media sosial.

Melalui smartphone, ia mengakses beberapa situs yang tak lazim ditonton oleh pelajar maupun masyarakat umumnya.

Berbagai situs pun diakses oleh Sisca. Bersama beberapa rekannya itu, sering nongkrong di warung internet gratis.

“Yang adek lihat beragam. YouTube nonton,” ucap dia.

Maka dapat disimpulkan bahwa pemicu awalnya jadikan Sisca menjadi Jasa Prostitusi yaitu dari kedua orang tuanya yang bercerai, lalu pergaulan lingkungan sekitar terlalu bebas, dan begitu mudah dapatkan informasi melalui perkembangan teknologi terlalu pesat.

Menjadi seorang remaja putri yang terjun menjadi PSK atau Jasa Prostitusi Putih Abu – Abu sesungguhnya menurut kami dapat dicegah dari lingkungan terdekatnya yaitu keluarga.

Keharmonisan dan terdidiknya remaja putri dalam rangkulan ke dua orang tua, sangatlah penting untuk masa depannya.

Kasatpol PP Ternate Curhat di Medsos Dianggap Rekayasa Ungkap Jasa Prostitusi

Fhandy Mahmud Thumina Kasatpol PP Maluku Utara

Fhandy Mahmud, Kepala Satuan Polisi Pamong Praja (KaSatpol PP) Kota Ternate Maluku Utara, diguncang prahara.

Diakibatkan, dirinya dituduh melakukan rekayasa kasus saat mengungkap bisnis Jasa Prostitusi kelas kakap di daerah itu.

Seperti diberitakan sebelumnya yang telah kami rangkum dalam Anggota DPRD, tertulis mengenai operasi tersebut telah mengamankan tiga orang, mereka yaitu Irwan alias Kaka (25) yang berprofesi sebagai mucikari Jasa Prostitusi, YN (26) dan SL (26) berprofesi sebagai PSK. Saat diinterogasi petugas, mereka mengungkapkan fakta yang mengagetkan banyak pihak.

Pasalnya, dari percakapan via seluler sang mucikari, ternyata oknum Anggota DPRD Maluku Utara serta oknum perwira polisi ada dalam daftar langganan.

Selain itu, dua PSK mengaku sebagai mahasiswi Perguruan Tinggi Negeri (PTN) di Ternate. Kendati telah berhasil mencegah terjadinya transaksi prostitusi yang lebih besar.

Razia yang dilakukan Kasatpol PP secara diam – diam saat Sabtu minggu lalu (14/5) itu, justru dipertanyakan.

Dekan Fakultas Hukum Unkhair Ternate, Syawal Abdulajid kepada Wartawan Jumat (19/5) mempertanyakan sikap Satpol PP dalam razia tersebut.

Menurut Syawal, jika razia yang dilakukan selama ini sudah menjadi hal yang biasa karena itu sudah menjadi program dari pemerintah, namun jika razia yang dilakukan dengan setingan untuk menjebak orang itu yang tidak di inginkan.

Namun, pernyataan Syawal Abdulajid kepada Media, langsung di klarifikasi oleh Kasatpol PP Ternate. Sedikit berbeda, kali ini, Media sosial menjadi sarana KasatPol PP Ternate untuk meluruskan tudingan miring tersebut.

Lewat akun Facebook, Fhandy Mahmud Thumina, dia menjelaskan secara detail bagaimana operasi itu terjadi dan dasar hukum dalam razia tersebut.

Berikut ini, komentar Kasatpol PP Ternate yang dipantau DelikNewsDotCom, Sabtu (21/5) dan ColokSilangDotCom, Minggu (4/12) via akun Facebook.

“Ass. Wr. Wb. Tabea for basudara semuanya. Mohon maaf atas segalanya bilamana dlm penjelasan ada yg kurang berkenan, saya rasa penting sedikit memberikan pandangan terkait pemberitaan yg menurut saya melemahkan saya, bukan bermaksud menggurui basudara semuanya, saya menegaskan saya melaksanakan tugas sdh sesuai dengan kewewenang Satpol PP telah yg di atur di PP No. 6 Th 2010 tentang Satuan polisi Pamong Praja bab III Pasal 6, Polisi Pamong Praja berwenang: melakukan tindakan & penertiban nonyustisial terhadap warga masyarakat, aparatur, atau badan hukum yang melakukan & tindakan pelanggaran atas Perda dan/atau peraturan kepala daerah.

Terima kasih atas kritikan dan saya berharap kritikannya membangun bukan memojokan, ini sdh sesuai prosedur yg mana adalah merupakan tugas satpol pp sebagai aparatur penegakan perda atau perkada, jelas2 sdh diatur dan saya menjalankan itu, bagian mana yg direkayasa dan razia bagaimana yg memilih2, saya tak memilih siapa yg akan dirazia, kejahatan didepan mata apakah saya harus terdiam ketika diajak ditawarkan oleh mereka para mucikari penyedia Jasa Prostitusi yg menjual barang dagangan, saya bukanlah seorang aparatur yg apatis. Saya digaji dan jabatan yg melekat saat ini jelas sebagai penegak perda/perkada ini merupakan satu kejahatan ketika seseorang mulai menawarkan brg dagangan ya mn tdk dipolerbolehkan di republik ini. Sehingga saya mencoba mengembangkan dengan cara menerima tawaran sang mucikari Jasa Prostitusi dengan tujuan saya hanyalah menertibkan sang mucikari nakal yg mana yg bersangkutan secara terang2gan merusak generasi muda dikota ternate.

Bila ada target yah akan kami jalankan, kalau menunggu perencanaan operasi dipastikan tdk mendapatkan apa2 alias nol & terkait pentingnya keterlibatan pihak terkait lain nya selalu dilakukan kami selalu berkordinasi sebelum dan sesudah melakukan giat. Jadi pada dasarnya sebagai pimpinan satuan haruslah melakukan atau mencoba merubah cara baru dlm operasi untuk mendapatkan target tupoksi sdh kami laksanakan sesuai SOP perda no 7 terkait Prostitusi sudah kami ditegakan. salam praja wibawa. Wasallamu Allaikum. Wr. Wb”.

Sumber: DelikNewsDotCom, Elias Mahruf.

 

Anggota DPRD Malut Boking Mahasiswi Pakai Jasa Prostitusi Online Waria

Jasa Prostitusi Online

Jasa Prostitusi sedari awal tahun 2016 ini memang tumbuh jauh lebih subur dari sebelumnya. Bahkan sudah semakin merebak Jasa Prostitusi baik Offline ataupun dari Online ke daerah – daerah diseluruh Indonesia.

Maka dari itu, kesadaran perlahan pun mulai timbul akibat aktifitas Jasa Prostitusi mulai meresahkan semua kalangan.

Baru – baru ini tepatnya Sabtu, 14 Mei 2016, Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kota Ternate membongkar prostitusi online dikalangan Mahasiswi di Ternate, Maluku Utara yang ternyata dikendalikan oleh seorang Waria.

Berkat Satpol PP Kota Ternate, akhirnya bisnis lendir atau Jasa Prostitusi yang tumbuh subur di Ternate ini terbongkar.

Hal ini dapat terjadi saat Irwan Mahmud (25) Alias Kaka, Waria asal Morotai, yang berprofesi sebagai mucikari penyedia Jasa Prostitusi, ditangkap bersama dua wanita berinisial YN (26) dan SL (26) di Losmen Family lingkungan Tanah Tinggi Ternate.

Tanpa aksi penyamaran yang dilakukan Kasatpol PP, Fhandy, dan anggotanya yang memesan dua wanita tersebut, mungkin penangkapan ini tidak akan berjalan sukses dan lancar.

Dari penuturan Mucikari yang Waria dan dua Mahasiswi, usai diinterogasi oleh petugas Satpol, ternyata diketahui pelanggan mereka mayoritas dari kalangan pejabat luas lingkup Pemprov Maluku Utara, Anggota DPRD dan Pejabat Kabupaten Pulau Morotai.

Beberapa bukti menguatkan penuturan Mucikari yang Waria ini yaitu dari daftar pesanan yang telah direkap oleh sang Mucikari juga pembicaraan Irwan (Mucikari–red) dengan Anggota DPRD Malut serta pejabat Pemkab Pulau Morotai.

Sudah satu tahun belakangan ini, usaha esek – esek sudah dijalani oleh Mucikari atau Penyedia Jasa Prostitusi. Untuk tarif, menurut mucikari, dibanderol seharga Rp500ribu hingga Rp800 ribu per satu kali kencan alias sekali pakai.

Menariknya, seorang anggota DPRD Maluku Utara atau Malut yang berinisial WZI diduga menggunakan Jasa Prostitusi Online yang dikelola Irwan. Hal ini diakui oleh sang Mucikari Waria, yang megaku anggota DPRD inisial WZI, memesan kepadanya lalu meminta mengirim foto dan menanyakan apakah perempuan yang ada difoto ini masih gadis atau sudah Janda.

“Kami lalu bertemu untuk membicarakan lebih lanjut” Sambung, Irwan, mengakui ada bukti percakapan WhatsApp dengan anggota DPRD.

Walau pun begitu, menurut Irwan pesanan Anggota DPRD kepadanya untuk membawakan seorang gadis, masih sebatas percakapan, lantaran dirinya dengan dua anak buahnya sudah lebih dulu tertangkap.

Saat ini, Irwan dan dua wanita telah diserahkan oleh Satpol PP ke Polres Ternate untuk ditindak lebih lanjut.

Anggota DPRD berinisial WZI ini diduga mengarah ke salah satu politisi Partai Gerindra yakni Wahda Zainal Iman. Dikonfirmasi via selulernya, Sabtu (14/5) Wahda mengaku bahwa nomor kontak dari Irwan itu ada pada WhatsApp miliknya, bernama Kaka. Katanya.

Mengenai pernyataan Mucikari (Irwan–red), Wahda, membantah, telah menggunakan Jasa Prostitusi Online yang dikendalikan Irwan untuk memesan gadis tersebut. Jelas Wahda Zainal Iman.

Sumber: DelikNewsDotCom, Elias Mahruf.